Wednesday, July 4, 2007

The Author's Toolkit

"Do you love to write? Do you need to write?"

Apakah anda suka menulis? Apakah anda perlu menulis? Apakah menulis tidak akan mengancam kesehatan emosional anda? Pada kesehatan mental anda? Apakah akan tetap menulis walaupun tulisan anda tidak laku dijual? Bahkan tidak ada seorang pun yang bersedia membacanya?

Jika jawaban akan semua pertanyaan itu Ya maka tetaplah menulis, maka tetaplah curahkan ide-ide anda.

Itulah sepenggal paragraf yang bisa saya kutif dari buku "The Author's Toolkit" Karya Mary Embree. Hmm..., cukup menggugah semangat.

Monday, July 2, 2007

Untuk Kaka & Ade

"Rumah sekarang sepi, gak ada kaka sama ade, gak ada suara jam tangan power rangers, gak ada pertanyaan Kelapa? Saat cerita ini diposting, mungkin kaka sama ade sedang berada di wilayah udara Srilanka"

Gak akan cerita banyak tentang anak-anak, karena tadi malam baru saja saya antar mereka ke bandara, mereka mau liburan di Indonesia, saya baru menyusul mereka bulan depan. Kalau anda bertanya apa arti kelapa diatas, itu kata yang dipakai ade untuk kata Kenapa?

Mengenai cerita sepinya rumah tanpa anak, saya pernah dapet e-mail yang ceritanya begini.

Suatu saat seorang ibu mengeluh karena kedua anaknya selalu membuat berantakan rumah. Memang usia anaknya dalam tahap bermain, satu 7 tahun dan yang satunya 3 tahun.

Berkali-kali ia memarahi anak-anaknya, berkali-kali ia memberitahu anaknya.

Saking pusingnya ia coba berkonsultasi dengan seorang teman dekatnya, bagaimana mengatasi masalah ini. Maka disuruhnya si ibu itu memejamkan mata. Lalu di minta mengheningkan fikiran dan membayangkan rumah yang rapi, bersih dan wangi. Lalu diteruskan beberapa menit lagi untuk membayangkan rumah itu tetap rapi, berish dan wangi seolah-olah hal itu terjadi berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tapi dibalik kerapihan, kebersihan dan kewangian itu semua, si ibu tidak bisa melihat dan mendengar anak-anaknya?

Kemudian si ibu diminta untuk membayangkan hidup tanpa anak, bertahun-tahun. Perasaan si ibu mulai gamang, inikah yang saya cari dari semua ini, rumah rapi tapi tanpa anak-anak?

Setelah kejadian itu, si ibu sadar, bukan anak-anak yang harus berubah, tapi orang tualah yang harusnya berubah. Anak-anak tetaplah anak-anak. Orang tua hanya bisa menyediakan fasilitas, dan megarahkan perlahan-lahan tanpa paksaan tanpa cercaan.

Doha Fish Market

"Gimana ngomomgnya kalau mau nawar, hidup di Qatar, yang jual orang-orang asia selatan, jangan khawatir meskipun bahasa nasional bahasa arab, tapi bahasa inggris luas dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari"

Hari kamis yang lalu saya sengaja pagi-pagi pergi ke Fish Market-nya Doha, maaf, kalau saya pakai kata Pasar Ikan, itu tidak identik dengan nama yang dipergunakan di sini. Kebetulan si sulung ingin makan dengan udang, dan kebetulan si bungsu pun lahap jika makan dengan udang, saya pun lahap, istri saya? lahap dong, dan mereka tidak masuk kedalam cerita ini, karena mereka masih terlelap tidur.

Jam 5.30 pagi cukup terang di Doha saat Summer, mungkin anda bisa membayangkan jika adzan subuh pukul 03.15 maka pukul 5.30 sudah seterang apa?
Hari kamis bukanlah hari yang terlalu ramai di pasar. Karena libur resmi baru jatuh pada hari jumat dan sabtu, maka lihat-lihat dan tawar menawarpun agak leluasa. Tidak terlalu banyak yang bisa ditawar, paling hanya selisih 2-3 Qatar Riyal, tapi lumayan dibandingkan di supermarket yang tinggal tunjuk, timbang, bayar.

Penjual ikan di sini kebanyakan warga keturunan asia selatan, tapi katanya pemiliknya sih tetap orang Qatar-Qatari kami menyebut warga negara qatar. Dan jangan khawatir soal bahasa, penjual dan pembeli cukup bisa berinteraksi dalam bahasa inggris. Atau kalau kita bisa berbahasa arab, bahasa urdu, bahasa tamil lebih baik lagi.

Ada kejadian menarik juga hari itu. Setelah membeli beberapa kilo udang, kepiting dan cumi-cumi, saya pergi ke pasar sayur (pasar ikan dan pasar sayur berbeda gedung dan terpisah kurang lebih 100 meter). Interaksi awal dalam bahasa inggris, yang saya ajak bicara berpenampilan warga asia selatan. Biasanya penjual dengan tampang seperti saya akan ditanya, "are you philipino or indonesi?" (karena memang tampang pilipino dan indonesi (sebutan orang-orang untuk orang indonesia) mirip. Maka saya jawab Indonesi, maka segeralah ia menawarkan kangkung dan bayam (bukan dalam bahasa inggris, tapi dalam bahasa Indonesia).

Saya pikir hanya bayam, kangkung dan menghitung 1 s.d 10 dalam bahasa Indonesia yang ia bisa. Eh dia terus nanya-nanya gini:

Penjual sayur : "Kawan dari mana kawan, Jakarta?"
Saya :"Jakarta"
Penjual sayur :"Ini ada daun sawi, cabai, tomat bagus-bagus kawan"

dan seterusnya dan seterusnya ...

Wah selidik punya selidik, taunya dia keturunan asia selatan yang lama tinggal di Singapura.

Pengarang Buku & Pembajak Buku

"Ada seorang pencuri, masuk kedalam rumah seorang pengarang buku, setelah sempat melihat-lihat seputar rumah, dia menemukan sebuah kamar yang diberi kunci ekstra dan menurut logika dia, itulah kamar yang paling banyak menyimpan harta, kenyataannya?"

Pencuri itu berkeliling di dalam kamar yang telah berhasil ia jebol kuncinya. Tapi ia kecewa akan apa yang dilihatnya, hanya seperangkat komputer, tv dan audio set, jam dinding, sebungkus permen dan selebihnya hanyalah buku-buku ciptaanya, buku-buku biography tokoh yang disukai sang penulis, dan sebuah log book yang menceritakan perjalanan hidup sang penulis dari penulis pemula hingga sesukses saat ini.

Setelah ditimbang-timbang maka TV dan Audio Set-lah yang ia ambil, "gampang nge-jualnya, katanya".

Mencuri adalah perbuatan tercela, apapun alasannya, tapi....

Dari cerita ini, itulah tipe yang sering kita lakukan, cepat dan praktis tanpa peduli akan proses menjadi sukses itu sendiri.

Seandainya si pencuri mengambil buku-buku kisah sukses sang penulis dan komputer, lalu ia belajar, maka TV dan Audio set adalah hal yang kecil yang akan bisa dibeli, dari mencontoh keberhasilan sang penulis, dan kalau cukup punya hati ia bisa mengembalikan buku-buku itu dan komputer plus kerugian non materi lainnya.

Seandainya, sang penjarah toko (dulu) mengambil ilmu bagaimana cara sukses menjadi pemilik toko, maka penjarahan atas nama balas dendam, kecemburuan sosial atau apapun tidak akan pernah terjadi, dan sekarang mungkin sudah menjadi pemilik beberapa toko.

Stop membajak hasil kesuksesan orang lain, Jadilah sukses itu bagian dari kita dan berasal dari kita sendiri.

What Do You Do? How Do You Do?


What Do You Do? How Do You Do? Pertanyaan terbaik jika bertemu dengan orang sukses dan ingin menjadi sesukses mereka.

Saya ingin sekali mem-posting cerita ini. Hanya saja saya masih mencari keterkaitan paparan yang akan saya postingkan dengan sebuah cerita, entah berasal dari buku, film, cerpen atau apapun. Dan kebetulan keterkaitan itu datang dari Film Pursuit of Happyness (huruf y sengaja menggantika huruf i, simak cerita lengkapnya di film tersebut).

Cerita sukses seseorang bisa terinspirasi oleh apa saja, misalnya seorang anak yang melihat ayahnya yang dokter dan sukses, lalu terinspirasi menjadi dokter yang sukses pula. Misal lainnya, seorang A ingin memiliki kesuksesan seperti sahabatnya, artinya sahabatnya menjadi inspirasi si A untuk menjadi sukses.

Lantas bagaimana jika kita tidak memiliki tokoh yang diidolakan, dan kita benar-benar membutuhkan figur sukses itu. Maka lakukanlah pencarian melalui buku, film atau dunia nyata maksudnya pada kehidupan langsung tokoh sukses, bergabunglah dengan orang-orang sukses, dan tanyakan kepada mereka dua pertanyaan What Do You Do? dan How Do You Do?

Kalau saja tokoh sukses itu mau menjawab, berarti sebuah keberuntungan bagi keduanya, pertama beruntung bagi si penanya karena bisa meniru langkah suksesnya. Kedua bagi si tokoh sukses, kesuksesannya tidak hanya berhenti pada diri sendiri, sebuah langkah yang sangat mulia.