Showing posts with label think and grow. Show all posts
Showing posts with label think and grow. Show all posts

Thursday, April 2, 2020

Lelaki, Suami dan Ayah

Pemandangan ini mungkin akrab bagi kita. Di depan pintu rumah seorang pria berpamitan kepada istrinya, anak-anaknya dan orang-orang yang dicintainya. Degup jantung mereka berdentum lebih cepat dan lebih kencang dari biasanya. Ada perasaan kehilangan baik bagi yang meninggalkan atau ditinggalkan. Bagi anak-anak yang sudah agak besar mungkin akan sangat terasa, beberapa bulan ke depan atau mungkin satu tahun ke depan mereka akan hidup tanpa ayahnya. Bagi sang istri akan hidup tanpa suaminya, dan lebih parah lagi bagi sang suami, ia akan hidup tanpa anak dan istrinya.

Atas "izin" istri suami meninggalkan anak dan istrinya, untuk mencari nafkah bagi dirinya istri dan anaknya.

Hari demi hari berjalan. Bulan demi bulan berlalu. Ada perbedaan sangat signifikan bagi kedua belah pihak, pihak sang lelaki dan pihak istri + anak.

Sebagai laki-laki, suami dan ayah lalu ia bekerja, setelah menyisishkan penghasilan untuk keperluan dasarnya lalu mengirimkan uang hasil kerjanya untuk istri dan anaknya. Setiap akhir pekan ia akan menelpon istri dan anak-anaknya. Yang di satu sisi membuatnya bahagia di sisi lain mengingatkannya betapa jauhnya jarak antara ia dengan istri dan anak-anaknya.

Bukan laki-laki namanya kalau tiddak bisa menahan resiko seperti itu, bekerja dan terpisah cukup jauh dari keluarganya. Tapi juga disebut laki-laki jika ia punya rasa rindu. Rindu pada istri dan anak-anaknya. 

Di sinilah saya beralasan bahwa laki-laki itu hebat. Bandingkan yang ia dapat. Ia hanya dapat uang dari hasil kerjanya sendiri. Sementara istri selain mendapat uang dari hasil kerja suaminya, ia juga mendapatkan kedekatan dengan anak-anak.

Jangan dianggap ringan jika terpisah jauh dari anak beberapa bulan. Saya pernah merasakan, bahwa segala bentakan, larangan yang pernah terlontar pada anak-anaknya akan sangat disesalinya. Bisa jadi selain penyesalan, tangisan pun bisa terjadi. Laki-laki pun bisa menangis.

Bukan...bukan karena saya laki-laki sehingga mengatakan laki-laki  lebih hebat dari wanita. Bukan pula menggugat laki-laki lebih tidak enak dibandingkan perempuan, dalam ruang lingkup kehidupan rumah tangga. Tapi dalam konteks cerita ini, saya bisa mengatakan seandainya bisa mencari nafkah dan tetap bersama dengan keluarga, itu adalah pilihan terbaik yang akan mereka ambil.

Sering saya melihat, seorang laki-laki duduk ditaman sambil menunjukan foto anak-anaknya pada rekan di sebelahnya, terlampau sering saya melihat seorang laki-laki duduk di bawah pohon sambil melihat foto anak-anaknya yang ia simpan dalam telepon genggamnya, sering pula dengar pernyataan, "kalau saja bukan karena uang dan masa depan anak-anak saya akan pulang dan menemui anak dan istri".

Berapa lama mereka akan seperti itu? Terpisah jauh fisik dan perasaan. Hanya pasangan masing-masing yang bisa menjawab.

Tuesday, November 15, 2011

Favicon

Lihat gambar di samping kiri. Tiba-tiba saya ingin memakai gambar ini sebagai Favicon. Sebuah istilah untuk gambar atau logo pada tab di sebelah kiri nama website.

Awalnya buat lucu-lucuan walau mungkin gak lucu. Atau pemanis buatan walau pun gak manis :-) Tapi logo ini cukup unik dengan bentuk menyerupai kupu-kupu dan initial nama saya di sampingnya.

Gak ada arti khusus dan sebetulnya bukan saya yang merancang, tapi hasil download dari website lain yang menyediakan desain logo secara gratis. Karena gratis berarti saya bisa mendesain ulang rancangan tersebut dan memajangnya di sini. Terima kasih buat Vistaprint.

Menurut Wikipedia, "A logo is a graphic mark or emblem commonly used by commercial enterprises, organizations and even individuals to aid and promote instant public recognition. Logos are either purely graphic (symbols/icons) or are composed of the name of the organization".

Saya berharap, suatu saat saya menciptakan sebuah logo yang identik untuk blog ini.

Sunday, January 2, 2011

Happy New Year MMXI


Happy New Year MMXI. Selamat Tahun Baru 2011. Buat yang merayakannya :)

Resolusi 2010 tentang qatarinformationguide.com sebagai kendaraan saya untuk memasuki internet marketing, bisa saya katakan gagal dengan berbagai alasan.

Tahun 2011, ada beberapa hal yang ingin saya lakukan berkenaan dengan sebuat kata yang berkonotasi aktivitas B I S N I S.

Gugup juga memulainya, gugupnya persis sama ketika memasuki dunia kerja baru, mudah-mudahan masa gugup itu hanya berlaku di minggu-minggu awal perintisan bisnis.

Segitu dulu, doakan saya bisa sukses di dua dunia, dunia pekerjaan saat ini dan dunia bisnis kelak di Indonesia, Amiin.

Sunday, October 17, 2010

Kangen Berkarya


Sepertinya susah untuk tidak memikirkan membangun sebuah bisnis. Sebenarnya beberapa tahun lalu saya sempat berhenti memikirkan hal ini. Konsentrasi pada pekerjaan dan lalu kembali dengan pola lama 30 : 30 : 30, artinya 30% untuk tabungan hari tua, 30% tabungan pendidikan anak dan 30% untuk investasi, tentu saja setelah dilakukan pengeluaran kebutuhan rutin bulanan.

Tapi akhir-akhir ini kembali muncul dipermukaan bahwa hanya menjadi seorang karyawan tanpa ada tambahan atau penghasilan pengganti di luar pekerjaan sangat berbahaya. Sama bahayanya jika punya bisnis, tapi hanya satu. Singkatnya satu hilang dan hilanglah semuanya, sementara kebutuhan pengeluaran tidak bisa dihilangkan.

Satu tahun terakhir ini beberapa sudah dicoba. Dengan alasan waktu yang fleksiel, saya mencoba afiliate marketing, tapi belum bisa menghasilkan penghasilan yang signifikan. Lalu beberapa minggu ini ada yang memperkenalkan bisnis e-bay, kalau ini belum sampai listing produk, tapi segala tahapan pendaftaran sudah selesai.

Dan....2 hari kemarin ada presentasi dari Pak Purdie E. Chandra atas produknya Primagama Quatum Kids. Wow...terus terang pesonanya sangat dahsyat. Dan pendapat ini bukan saya saja, teman-teman pun begitu. Dan beberapa tempat yang ditawarkan untuk kepemilikan Master Franchise laku hanya dalam jangka waktu penawaran 2 hari, yaitu Semarang, Purwokerto, Solo, Sulawesi bagian utara, Banjarmasin....dahsyat kekuatan nama Primagama ini.

Kembali ke pola 30:30:30, saya pemain yang sangat hati-hati. Bahkan untuk spending penghasilan sendiri pun (bukan utang) tidak berani menaikannya menjadi 50:50, atau 50% untuk saving dang 50% untuk investasi/bisnis.

Dalam fikiran saya, saya tidak mau terlalu gegabah spending sebelum tahu bahwa bisnis itu berjalan baik. Mudahnya sebelum penelusuran  menyeluruh terhadap perusahan yang akan diakuisisi atau dibeli lisensinya dilakukan. Saya lebih baik memebeli agak mahal tapi perusahaan itu sehat.

Bahkan kelak jika satu bisnis berjalan dan berkeinginan mengembangakan bisnis ke dua, pengennya pola 30:30:30 tetap saya terapkan, hanya 30% untuk investasi berikutnya.

Memang persoalannya utamanya adalah jawaban atas pernyataan "Kapan akan mulai?" Ya kapan saya bisa mulai. Dalam draft struktur perusahan, permodalan dan bidang usaha sudah mendapat gambaran. Dan saya pengennya pas buka nanti saya bisa nungguin paling tidak 2 bulan pertama, Kapan? Dimana? Nanti saya ceritakan lagi di sini. Sementara mohon doanya dari semua semoga target tercapai, Amiiin.

Saturday, September 13, 2008

Label

Industri adalah kemampuan mengelola bahanbaku, teknologi dan sumberdaya manusia.

Ketika satu komponen tidak tersedia maka mendatangkan komponen itu dari tempat lain adalah sebuah kenyataan yang harus dilakukan. Bisa saja didatangkan dari daerah yang satu provinsi, dari pulau lain atau impor.


Seperti negara lainnya, Qatar adalah sebuah negara yang memiliki kemampuan melakukan industrialisasi pada berbagai bidang. Oil and Gas adalah industri utama setelah industri mutiara mulai ditinggalkan. Industri lainnya mulai berkembang ke arah pemenuhan kebutuhan pokok agar bisa diproduksi di dalam negeri.

Beberapa contoh industri di Qatar yang bahan bakunya didatangkan dari luar adalah tepung terigu, cement, alumunium, susu dan beberapa produk lainnya.

Beberapa hari ini saya tertarik dengan adanya Tissue Roll yang diberi label Made by Gulf Paper Industries dan dilengkapi dengan nomor telepon perusahaannya di Doha Qatar.

Produsen sangat cerdas mengganti "Made in ..." menjadi "Made by ..." sehingga asumsi produk ini dibuat di Qatar pun dengan sendirinya tumbang. Karena semua tahu produksi tissue ini membutuhkan bahan-baku dari bahan dasar kayu, dan semua hapal betul bagaimana kondisi pepohonan di Qatar ini.

Saya mengasumsikan perusahaan penjual melakukan re-labelling pada produk ini. Entah oleh perusahaan apa dan di negara mana tissue ini sebetulnya diproduksi.

Re-labelling menjadi normal di dunia perdagangan saat ini. Produsen menjual produk tanpa merk, dan lalu buyer/trader melakukan re-labelling dengan menggunakan namanya sendiri. Praktik ini menjadi sangat popular ketika banyak perusahaan retail (supermaket) memberi label produk atas namanya.

Silahkan cek, ada gula, minyak goreng, beras ber-merk Alfa, Yogya, Carefour, Lulu dan lain sebagainya. Anda tertarik menjadi "pengusaha re-labelling" ini?


Saturday, September 6, 2008

Flexibility

Fleksibilitas seringkali membuat kita lebih efektif dalam banyak hal. Tapi ini bukan berarti kita menyerah akan keteguhan pendapat kita, tetapi lebih sekedar mempertimbangkan apa yang kita lihat dan dengar dari pihak lain. Menjadi fleksibel dalam berinteraksi dengan pihak lain seringkali menambah pengetahuan dan ini membantu membentuk pengembangan diri. Dalam hubungannya dengan pekerjaan, fleksibilitas seringkali meningkatkan harmonisasi dalam saling memahami berbagai ide, perilaku dan hal-hal lainnya. Pengalaman akan hal ini memberikan kesempatan kepada seseorang untuk dapat merasakan titik pandang pihak lain. Jika titik pandang pihak lain sesuai dengan apa yang kita sukai, kita bias mengadaptasinya dengan cara kita. Mungkin fleksibilitas ini membutuhkan beberapa hal lainnya untuk menjadikan kita merasakan hadirnya ide-ide baru, perilaku baru atau yang lainnya. Meningkatkan keterbukaan pemikiran membantu menentukan apakah hal-hal baru itu dapat berasimilasi dengan pikiran-pikiran kita yang sudah ada sebelumnya. Dan perlu diingat kita harus bias menentukan dapat kita terima ide baru itu atau kita lupakan saja, semua terserah kita, tapi satu hal setidaknya kita tidak menutup diri akan ide lain sebelum ide itu kita lihat atau dengar.

Sebuah contoh di sini bisa kita ambil. Entah kapan kita mungkin pernah ditawari makanan yang belum pernah kita coba sebelumnya. Saat kita pertama kali mencobanya, kita mungkin merasa menyukainya karena rasanya mirip dengan sebuah makanan yang pernah kita coba sebelumnya, sesuatu yang biasa kita nikmati. Tetapi ketika kita mencoba makanan itu, dan rasanya sama sekali baru dan belum pernah mencobanya, mungkin reaksi kita adalah menyukainya, tidak menyukainya, atau netral. Netral membuat kita membuka diri pada suatu pilihan, kita akan mencobanya lagi di waktu yang akan datang, atau sebaliknya. Di lain hal, kita sudah mempelajari satu hal, dan pelajaran ini tidak pernah akan kita terima, jika kita tidak pernah menerima tantangan untuk mencoba sesuatu yang baru.

Saya teringat, ketika suatu kali saya selalu menolak makan tertentu, karena apa yang pertamakali saya rasakan makanan itu memiliki aroma yang tidak saya sukai. Beberapa tahun kemudian, teman-teman mengajak mencoba lagi makanan tersebut, dan ketika saya mencobanya, kali ini saya dapat menerimanya, bahkan merasakan nikmat. Hal ini jauh sekali dengan pengalaman saya sebelumnya. Jadi melalui fleksibilitas, pemikiran dan pengalaman saya menjadi berubah.

Seringkali seseorang yang tidak memiliki fleksibilitas dalam pemikirannya, tidak cocok untuk menjadi seorang pemimpin pada sebuah bisnis atau industri, atau pada berbagai bidang posisi supervisory dimana kesuksesan tergantung pada kerjasama team. Seseorang datang dengan berbagai karakter, dan untuk menciptakan harmony dan kerjasama, hal terbaik uantuk dilakukan adalah membuka pikiran akan berbagai pendapat terhadap usulan terbaik dari masing-masing bagian team. Mengapa tidak mencoba hal yang baru? Cobalah bergabung dengan kelompok yang berbeda dengan karakter kita. Perhatikan apa yang terjadi pada personality anda akibat dari kemampuan penyerapan akan ide baru, perilaku baru dan semua hal yang diakibatkan dari bergabungnya dengan kelompok baru tersebut.

Wednesday, September 3, 2008

Emulate

Satu hal yang mempengaruhi dan membantu pencapaian sukses adalah mempelajari apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang terlebih dahulu sukses. Tetapkan prisip-prinsip apa saja yang secara terus menerus mereka lakukan, lalu lakukanlah contoh-contoh itu oleh kita.

Prinsip-prinsip kesuksesan seperti yang pernah diungkapkan oleh Andrew Carnegie adalah sangat jelas, semua itu nyata, dan semua itu dapat dipelajari oleh semua orang yang berkeinginan untuk meluangkan waktu untuk mempelajarinya dan untuk mengaplikasikannya dalam pencapaian tujuan.

Jika kita merupakan orang-orang yang benar-benar suka mengamati, kita bisa menemukan dan belajar dari hamper semua orang-orang yang kita jumpai. Dan ini tidak berarti kita harus mengenal mereka lebih dalam terlebih dahulu. Kita bisa mendapatkan pelajaran dari sesuatu yang simple yang kita amati. Atau bisa juga belajar dari seseorang yang masih hidup atau mempelajari hasil-hasil generasi sebelumnya.

Yang terpenting adalah, pelajari bagaimana mereka menjalani hidup, pelajari apa-apa yang memang menarik untuk dipelajari, lalu aplikasikan dalam kehidaupan kita hal-hal spesifik dari pengalaman itu untuk mencapai kesuksesan.

Embellishment Of Words

Tindakan yang tepat lebih dibutuhkan dibandingkan dengan seribu ucapan untuk membuat sesuatu lebih menarik dan orang lain terpengaruh.

Satu dari sekian banyak kesalahan yang sering kita perbuat adalah membuat berbagai alasan untuk menjelaskan kenapa kita gagal. Dan sayangnya lagi, seseorang yang mengalami kegagalan kebanyakan adalah seseorang yang pandai mencari alasan. Mereka mencoba menceritakan apa yang sudah mereka lakukan, tanpa tindakan perbaikan yang nyata, melainkan hanya melalui kata-kata. Tapi ini pun masih lebih baik dibandingkan dengan orang yang belum mencoba, tetapi ucapan-ucapannya seperti seorang yang sangat berpengalaman di bidang yang dibicarakannya. Dan jika berbicara tentang kegagalan, lebih sering menimpakannya akibat pihak-pihak eksternal.

Jika kita sukses, terimalah ucapan selamat dari pihak lain dengan tidak berlebihan. Dan jika kita gagal, terimalah kegagalan itu, untuk kemudian berfikir dan mempelajari kegagalan yang terjadi, lalu bertindak untuk sesuatu yang lebih baik di waktu yang akan datang.

Percayalah, jika apa yang kita lakukan tepat pada berbagai kondisi, kita tidak akan pernah merasa untuk mencari-cari alasan hanya dengan kata-kata. Tindakan nyata kita akan “berbicara” lebih dibandingkan dengan ribuan kata-kata yang tidak konstruktif.

***

Tuesday, September 2, 2008

Everything You Create Begins In The Form Of Desire

Dalam banyak hal melakukan sesuatu harus memiliki tujuan. Melakukan sesuatu dengan keinginan sebuah kesuksesan tidak bisa kemudian diikuti dengan melakukan hal-hal yang berakibat kecil pada tujuan apalagi tidak memiliki hubungan sama sekali dengan tujuan. Selain itu, untuk mencapai tujuan harus diiringi dengan hasrat yang sangat kuat pada apa yang dituju.

Kita sering berfikir, kita ingin sukses, tetapi tidak dilandasi dengan keinginan dan usaha yang intensif, maka kemungkinan mencapai sukses menjadi sangat jauh. Cobalah terus mengembangan diri serta memperbaiki diri. Tingkatkan terus kemampuan dari waktu ke waktu.

Hiasi juga fikiran kita dengan merasa senang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan kita. Semua ini ibarat menambahkan bahan bakar kedalam tungku perapian bernama semangat. Seringkali kita membutuhkan cukup tekanan untuk membawa kita sendiri melewati sebuah bukit rintangan.


Jika tidak cukup kuat hasrat dan usaha kita, bukannya kita akan mampu mendaki bukit itu, tapi malah kita akan kembali menggelinding ke dasar bukit.

Saturday, August 30, 2008

Krisis Kreatifitas

Sadarkah kita saat melihat hasil karya orang lain yang lebih baik, bisa membuat dua akibat. Akibat pertama, kita ingin mencontoh sukses yang dialami oleh orang itu, dan ini akibat yang baik. Kedua, kita malah merasa tidak percaya diri untuk melanjutkan berkarya dijalur yang sama, dan ini akibat yang tidak baik.

Contoh dari kedua akibat itu bisa dilihat di sini.

Contoh pertama adalah contoh sukses Habiburahman El Shirazy dalam menulis novel bertemakan cinta, banyak ditiru oleh beberapa pengarang dalam cerpen atau novel mereka. Bukan saja judul dan tema novel itu saja, sampai-sampai nama pun di mirip-miripkan dengan tambahan El-xxxxx, padahal nama Indonesia jarang sekali yang menggunakan nama keluarga khas timur tengah tersebut. Dan tetap saja, karya "tiruan" ini masih ada pasar penggemarnya.

Contoh kedua adalah apa yang terjadi pada penulis Harry Tjahyono. Sekedar mengingatkan karya beliau diantaranya Naskah sinetron Si Doel Anak Sekolahan II, III dan IV. Harry Tjahyono, walaupun masih aktif menulis cerpen, naskah sinetron, tetepi beliau sejak tahun 1990-an berhenti menulis Novel setelah membaca novel karya Pramoedya Ananta Toer. Menurut pengakuanya beliau merasa minder karena novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer sangat berkualitas.

Tentu saja ini bukan salah Pak Pramoedya Ananta Toer. Ini adalah masalah internal Pak Harry Tjahyono. Tapi bersykurlah, saat ini Pak Harry Tjahyono sudah mulai menulis novel lagi, dan sebentar lagi karya beliau berjudul Bagawad Gawat akan diterbitkan.

Saya juga kadang merasa begitu, membaca tulisan-tulisan blogger lain yang lebih dulu ada dan sukses, kadang berfikir, apa arti tulisan saya ini dibandingkan karya mereka? Nol besar.
Tapi jika saya terus memperbandingkan dengan mereka, lalu merasa rendah diri, maka saya akan berhenti menulis, dan kemudian saya tidak punya tambahan ilmu. Dan Nol besar saya akan menjadi Nol yang lebih besar.

Lalu yang saya lakukan adalah, saya tetap bangga dengan karya mereka, saya contoh bagaimana mereka menjadi sukses (bukan menjiplak tulisannya), lalu saya berusaha membuat sesuatu yang memiliki kekhasan, yang mudah-mudahan berguna bagi semuanya termasuk saya dan anda.

Selamat berkarya.

Friday, August 22, 2008

Best Stage

Pernahkan kita merasa, kita berada pada tahap terbaik hidup kita?

Jika anda sedang merasakannya, bersyukurlah, nikmatilah dan berbuatlah secara wajar, tidak perlu berlebihan. Dalam hal merayakannya maupun menyembunyikannya.

Bisnis anda sedang berada di atas target keuntungan yang diperkirakan, karier anda berada di puncak, tidak ada orang lain di atas anda kecuali pemilik modal.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menikmati kesuksesan itu. Diantaranya menghargai diri anda dengan sesuatu yang anda idam-idamkan sejak lama. Misal sudah lama anda ingin memiliki motor besar, dan saat ini keuangan anda setelah berhitung secara cermat memungkinkan untuk itu, maka lakukanlah, nikmatilah masa-masa emas itu. Bukan untuk berlebih-lebihan., tapi menghargai hasil kerja keras kita adalah hak kita.

Kita ingat seorang pemain bola, saat berhasil membuat goal, maka ia akan merayakannya, berlari, berteriak, berangkulan atau apapun dilakukan untuk mengekspresikan kegembiraannya.

Begitu pula kita. Menumpuk apa yang telah kita peroleh secara berlebihan, membuat kita seperti robot yang bekerja, simpan dan kemudian tak bisa menikmatinya, karena hanya bisa melihat angka-angka. Entah karena kemudian masa emas itu hilang atau secara fisik tidak mampu lagi menikmatinya.

Berapa banyak orang yang memiliki sesuatu tapi ia tidak bisa menikmatinya.

Seorang teman bercerita di awal usia 40-an ia mendapatkan posisi sangat baik di sebuah perusahaan dengan pendapatan sangat baik. Karena itu merupakan awal kesuksesannya, maka ia merasa harus menyimpan hampir semua pendapatannynya, bahkan ia berusaha melakukan bisnis untuk menambah percepatan pertumbuhan keuangannya, hanya sayangnya bisnis yang dilakukannya diluar kemampuannya, bahkan kontrol terhadap bisnis itupun sangat lemah, dan menyerahkan begitu saja bisnis itu pada salah satu “anggota keluarganya”.

Apa yang terjadi kemudian, bisnis itu ambruk tanpa ia tahu kenapa dan tak tahu bisa menyelamatkannya dari mana. Bahkan karena itu ia menjadi sangat benci dengan “anggota keluarganya” itu. Karena laporan yang ada semuanya seakan baik-baik saja, padahal bisnis itu dalam kehancuran. Baginya “anggota keluarga” itu hanyalah seorang penjilat, penipu dan pencuri masa keemasan dirinya.

Memang agak sulit di pahami, seseorang yang bisa sukses di satu sisi tapi gagal di sisi lain. Karena itu merupakan sebuah anugerah dan anjuran jika anda bisa melakukan penghargaan terhadap kesuksesan diri anda sendiri sebelum pihak lain mengambilnya.

Setelah kita sukses megarahkan pada kesuksesan, sebaiknya memang kita juga belajar mengarahkan diri kita untuk menjaga kesuksesan. Belajar Ilmu Finansial adalah keharusan. Bahkan mulailah berhitung masa pensiun di mana di saat itulah masa keemasan menurun bahkan menghilang dan saatnya kita menggunakan pundi-pundi yang kita dapatkan dan miliki dari masa kejayaan kita, untuk menopang kelanjutan hidup kita.

Semoga kesuksesan selalu menyertai kita.

Bila Cinta Landasan Pernikahan

Bila cinta landasan pernikahan........ maka banyak orang gagal landing.

Jika ibu tidak mencintai ayahmu, gak mungkin kamu lahir. (Dialog ” Ibu dan Gaia dalam Film GARASI).

Jamie Aditya bersedia menikahi Dewi Sandra karena Jamie Aditya ingin mendapatkan uang dari keluarga Dewi Sandra untuk keperluan operasi ibunya. (Penggalan cerita dalam Film XL Antara Aku Kau & Mak Erot).

Nadia bersedia menikah dengan Bambang karena desakan keluarga agar Nadia segera menikah. (Penggalan cerita film Otomatis Romantis).

Fachri menikahi Maria karena ingin “menyelamatkan nyawa” di saat kritis. (Penggalan Kisah Novel Ayat Ayat Cinta).

Hari pernikahan itu datang. Aku datang seumpama tawanan yang digiring ke tiang gantungan. Lalu duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa, tanpa cinta. Apa mau dikata, cinta adalah anugerah Tuhan yang tak bisa dipaksakan. Pesta meriah dengan bunyi empat grup rebana terasa konyol. Perasaan dan nuraniku benar-benar mati. (Penggalan kisah cerpen Pudarnya Pesona Cleopatra).

--**--

Berbagai cerita pernikahan yang timbul akibat dari sebuah alasan atau logika mungkin banyak terjadi dalam pernikahan. Selain alasan-alasan di atas tentu banyak sekali cerita lainnya. A menikahi B karena mereka sudah saling mengenal sejak usia sekolah dasar. C menikah dengan D karena D dikenal baik dan teman saat SMA. E menikahi F karena tampan dan banyak uang. G menikahi H karena usia G sudah mendekati 40. J menikahi K karena keluarga mendesak agar segera menikah. Dan lain sebagainya.

Lantas di manakah cinta itu berada jika pernikahan hanya berdasarkan logika baik dan buruk? Adakah cinta itu jika pernikahan langgeng karena mengerjakan perintah agama? Seberapa banyakkah pasangan yang menikah dan terlepas dari pertimbangan-pertimbangan baik dan buruk itu.

Membaca kisah cinta dalam novel karya Habiburahman El Shirazy seperti mengikuti kisah ideal seorang manusia yang menuju pernikahan karena si calon rajin sholat, hafal Al Quran dan baik tingkah lakunya, tidak pernah berbuat salah dan menyalahkan orang lain. Singkatnya ini adalah kisah cinta ideal untuk manusia luar biasa. Masih adakah manusia saat ini yang berperilaku seperti rasul dalam kehidupan rumah tangganya, yang tidak pernah membentak pada istri atau anak, yang tidak complain kalau makanan belum siap, rumah berantakan, anak nangis, dan seterusnya. Mungkinkah orang dengan kualitas seperti Aa Gym, Buya Ahmad Syafii Maarif, Gus Dur, Bapak Habib FPI bisa? Wallahualam.

Sedangkan membaca kisah cinta dalam novel karya Andrea Hirata, seperti mengikuti cerita cinta kebanyakan orang. Orang biasa. Mencintai karena perasaan merasa suka. Terlepas dari logika baik dan buruk. Cinta pada pandangan pertama. Kadang diabaikan. Kadang ditolak. Terlepas dari kriteria-kriteria. Intinya percaya pada perasaan. Lihatlah Ikal, yang terus mencari A Ling hingga ke Rusia. Indah rasanya bisa menjaga perasaan seperti itu, walaupun tidak tahu seperti apa A Ling saat ini. Cinta yang mungkin akhirnya tak berbalas. Mungkin sedih tapi itulah kondisi sebenarnya.

Saya tidak sedang membandingkan mana yang lebih baik dari dua kisah karya dua Novelis tersebut. Hanya saja sepertinya memang saat orang mulai dewasa, logika-logika, perhitungan-perhitungan, baik-buruk dan pertimbangan-pertimbangan banyak menentukan keputusan untuk menikahi seseorang. Bahkan untuk (akhirnya) tidak menikahi seseorang. Layaknya hitungan bisnis faktor untung rugi berlaku juga di pernikahan.

Lalu berapa orang yang masih percaya cinta pada pandangan pertama, berapa orang yang menikahi (type) laki-laki atau perempuan yang diharapkannya, berapa orang yang menikah karena CINTA.

Jika cinta landasan pernikahan, maka banyak orang gagal landing.